Interaksi
Sosial
Tugas ini dibuat untuk memenuhi ujian akhir
semester mata kuliah
Sosiologi Komunikasi
Dosen Pengampu: Abu
Amar Bustomi, M.Si
Disusun Oleh
Dicky Satria Ramadhan
B95219095
Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Dakwah dan Komunikasi
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
2020
A.
Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi
sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan
sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu
lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara
kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol
diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh
mereka yang menggunakannya. Adapun pengertian interaksi sosial menurut para
ahli dapat dikemukakan sebagai berikut:
1. Interaksi sosial adalah hubungan-hubungan
sosial yang dinamis yang berkaitan dengan orang perorangan, kelompok
perkelompok, maupun perorangan terhadap perkelompok ataupun sebaliknya[1].
2. Interaksi sosial adalah hubungan timbal balik
antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan
kelompok[2].
Menurut
pendapat saya Interaksi sosial merupakan kunci dari
semua kehidupan sosial, tanpa interaksi sosial tidak ada kehidupan bersama.
Bertemunya orang perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan
pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam itu baru
akan terjadi apabila orang-orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia
bekerja sama, saling berbicara, dan seterusnya untuk mencapai suatu tujuan
bersama, mengadakan persaingan, pertikaian dan lain sebagainya.
B. Syarat Interaksi Sosial
Menurut
Soerjono Soekanto (2012:71-73) mengungkapkan suatu interaksi sosial tidak akan
mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat, yaitu:
1.
Adanya kontak
sosial (social-contact). Kata kontak berasal dari bahasa Latin con cum (yang
artinya bersama-sama) dan tanngo (yang artinya menyentuh), jadi artinya secara
harfiah adalah bersama-sama menyentuh. Secara fisik, konntak baru terjadi
apabila terjadi hubungna badaniah, sebagai gejala sosial itu tidak perlu berati
suatu hubungan badaniah oleh karena orang dapat mengadkan hubungan dengna fihak
lain tanpa menyentuhnya.
2.
Adanya
komunikasi. Arti terpenting dalam komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan
tafsiran dan perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak
badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang
tersebut. Orang yang bersngkutan kemudian memberikan reaksi terhadapp perasaan
yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.
C.
Jenis Interaksi
Sosial
Interaksi sosial mempunyai berbagai
macam bentuk dan dikelompokkan berdasarkan bentuk, cara, dan subjek.
1.
Interaksi
Sosial Individu dengan Individu adalah interaksi ketika dua individu bertemu
secara langsung dan melakukan interaksi satu sama lain walaupun itu dalam
bentuk yang sederhana seperti, saling menyapa dan tersenyum ketika berpapasan
dijalan.
2.
Interaksi
Kelompok dan Kelompok adalah interaksi ketika 2 kelompok yang berbeda saling
bertemu. Komunikasi yang terjalin bukan lagi berkaitan dengan hal-hal yang
bersifat pribadi melainkan kepentingan kelompok. Contohnya pertemuan antar
Ormas dsb.
3.
Interaksi
Individu dan Kelompok adalah interaksi dimana seseorang berkomunikasi dengan
sekolompok orang atau lebih dari tiga orang. Seperti misalnya seseorang yang
berorasi di podium dsb.
D.
Macam Interaksi
Sosial
Interaksi
sosial dibedakan menjadi dua macam bentuk, yaitu asosiatif dan disosiatif.
1. Asosiatif
Interaksi sosial bersifat asosiatif akan
mengarah pada bentuk penyatuan. Interaksi sosial ini terdiri atas beberapa hal
berikut.
a. Kerja sama (cooperation)
Kerjasama terbentuk karena masyarakat
menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama sehingga
sepakat untuk bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama. Berdasarkan
pelaksanaannya terdapat empat bentuk kerjasama, yaitu bargaining
(tawar-menawar), cooptation (kooptasi), koalisi dan joint-venture (usaha
patungan).[3]
b.
Akomodasi
Akomodasi merupakan suatu proses penyesuaian antara individu dengan
individu, individu dengan kelompok, atau kelompok dengan kelompok guna
mengurangi, mencegah, atau mengatasi ketegangan dan kekacauan. Proses akomodasi
dibedakan menjadi bebrapa bentuk antara lain :
1) Coercion yaitu suatu bentuk akomodasi yang
prosesnya dilaksanakan karena adanya paksaan
2) Kompromi yaitu, suatu bentuk akomodasi dimana
pihak-pihak yang terlibat masing-masing mengurangi tuntutannya agar dicapai
suatu penyelesaian terhadap suatu konflik yang ada.
3) Mediasi yaitu, cara menyelesaikan konflik
dengan jalan meminta bantuan pihak ketiga yang netral.
4) Arbitration yaitu, cara mencapai compromise
dengan cara meminta bantuan pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak
atau oleh badan yang berkedudukannya lebih dari pihak-pihak yang bertikai.
5) Adjudication (peradilan)yaitu, suatu bentuk
penyelesaian konflik melalui pengadilan.
6) Stalemate yaitu, Suatu keadaan dimana
pihak-pihak yang bertentangan memiliki kekuatan yang seimbang dan berhenti
melakukan pertentangan pada suatu titik karena kedua belah pihak sudah tidak
mungkin lagi maju atau mundur.
7) Toleransi yaitu, suatu bentuk akomodasi tanpa
adanya persetujuan formal.
8) Consiliation yaitu, usaha untuk mempertemukan
keinginan-keinginan pihak- pihak yang berselisih bagi tercapainya suatu
persetujuan bersama.[4]
c.
Asimilasi
Proses
asimilasi menunjuk pada proses yang ditandai adanya usaha mengurangi perbedaan
yang terdapat diantara beberapa orang atau kelompok dalam masyarakat serta
usaha menyamakan sikap, mental, dan tindakan demi tercapainya tujuan bersama.
Asimilasi timbul bila ada kelompok masyarakat dengan latar belakang kebudayaan
yang berbeda, saling bergaul secara intensif dalam jangka waktu lama, sehingga
lambat laun kebudayaan asli mereka akan berubah sifat dan wujudnya membentuk
kebudayaan baru sebagai kebudayaan campuran.[5]
d.
Akulturasi
Proses sosial yang timbul, apabila suatu kelompok masyarakat manusia dengan
suatu kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur - unsur dari suatu kebudayaan
asing sedemikian rupa sehingga lambat laun unsur - unsur kebudayaan asing itu
diterima dan diolah ke dalam kebudayaan sendiri, tanpa menyebabkan hilangnya
kepribadian dari kebudayaan itu sendiri. [6]
2.
Disosiatif
Interaksi sosial ini mengarah pada bentuk
pemisahan dan terbagi dalam tiga bentuk sebagai berikut:
a. Persaingan/kompetisi Adalah suatu perjuangan yang dilakukan
perorangan atau kelompok sosial tertentu, agar memperoleh kemenangan atau hasil
secara kompetitif, tanpa menimbulkan ancaman atau benturan fisik di pihak
lawannya.
b.
Kontravensi
Adalah bentuk proses sosial yang berada di antara persaingan dan pertentangan
atau konflik. Wujud kontravensi antara lain sikap tidak senang, baik secara
tersembunyi maupun secara terang - terangan seperti perbuatan menghalangi, menghasut, memfitnah, berkhianat, provokasi, dan
intimidasi yang ditunjukan terhadap perorangan atau kelompok atau terhadap
unsur - unsur kebudayaan golongan tertentu. Sikap tersebut dapat berubah menjadi
kebencian akan tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau konflik.
c.
Konflik Adalah proses sosial antar perorangan atau kelompok masyarakat
tertentu, akibat adanya perbedaan paham dan kepentingan yang sangat mendasar,
sehingga menimbulkan adanya semacam gap atau jurang pemisah yang mengganjal
interaksi sosial di antara mereka yang bertikai tersebut.[7]
E.
Ciri Interaksi
Sosial
Proses
interaksi sosial dalam masyarakat memiliki ciri sebagai berikut :
1. Adanya dua orang pelaku atau lebih
2. Adanya hubungan timbale balik antar pelaku
3. Diawali dengan adanya kontak sosial, baik
secara langsung. Ada juga yang menambahkan adanya dimensi waktu (masa lampau,
masa kini, dan masa mendatang) yang menentukan sifat aksi yang sedan
berlangsung
4. Mempunyai maksud dan tujuan yang jelas.
Tidak semua
tindakan merupakan interaksi. Hakikat interaksi terletak pada kesadaran
mengarahkan tindakan pada orang lain. Harus ada orientasi timbal-balik antara
pihak-pihak yang bersangkutan, tanpa menghiraukan isi perbuatannya: cinta atau
benci, kesetiaan atau pengkhianatan, maksud melukai atau menolong.
F.
Contoh
Interaksi Sosial
Berikut ini adalah beberapa contoh dari interaksi sosial baik itu
Contoh interaksi asosiatif ataupun Disasosiatif dengan jenis Individu dengan
individu, kelompok dengan kelompok ataupun individu dengan kelompok.
1.
Contoh
Interaksi Sosial Asosiatif
a.
Proses
musyawarah masyarakat untuk menentukan ketua RT atau RW
b. Pedagang dan
Pembeli yang sedang melakukan tawar menawar harga sebuah barang atau produk.
2.
Contoh Intraksi
Sosial Disasosiatif
a.
Tawuran dua
kubu suporter sepakbola
b. Perdebatan
antara dua orang/kubu mengenai masalah siapa yang lebih baik antara Calon
Gubernur A dan Calon Gubernur B.
Kesimpulan
Interaksi sosial adalah suatu
hubungan antara dua atau lebih individu manusia, dimana kelakuan individu yang
satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain, atau
sebaliknya.
Suatu interaksi sosial tidak akan
mungkin terjadi apabila tidak memenuhi dua syarat yaitu adanya kontak sosial
dan komunikasi. Kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga bentuk yaitu antara
orang perorangan, antara orang perorangan dengan suatu kelompok manusia atau
sebaliknya, antara suatu kelompok manusia dengan kelompok manusia lainnya.
Komunikasi adalah bahwa seseorang
yang memberi tafsiran kepada orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak
badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang
tersebut. Orang yang bersangkutan kemudian memberi reaksi terhadap perasaan
yang ingin disampaikan.
Bentuk-bentuk interaksi sosial ada
yang disebut Proses Asosiatif dan Proses Disosiatif. Yang termasuk proses
asosiasi adalah (1) Kerja Sama (Cooperation), yang mempunyai lima bentuk,
yaitu: Kerukunan, Bargaining, Ko-optasi (Co-optation), Koalisi (Coalition), dan
Joint-ventrue. (2) Akomodasi (Accomodation), yang mempunyai betuk-bentuk:
Coercion, Compromise, Arbitration, Mediation, Conciliation, Toleration,
Stalemate, dan Adjudication. (3) Asimilasi (Assimilation). Yang termasuk proses
disosiatif yaitu Persaingan (competition), Kontravensi (contravention), dan
Pertentangan atau pertikaian (conflict). Yang termasuk bentuk persaingan yaitu
Persaingan ekonomi, Persaingan kebudayaan, Persaingan kedudukan dan peranan,
dan Persaingan ras. Yang termasuk ke dalam bentuk kontravensi yaitu kontravensi
yang umum, sederhana, intensif, rahasia, dan taktis.
Ada tiga jenis interaksi sosial,
yaitu: Interaksi antara Individu dan Individu, Interaksi antara Kelompok dan
Kelompok, dan Interaksi antara Individu dan Kelompok. Interaksi sosial
mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: Ada pelaku dengan jumlah lebih dari satu
orang, Ada komunikasi antarpelaku, Ada dimensi waktu, dan Ada tujuan-tujuan
tertentu. Faktor-faktor dalam interaksi sosial yaitu Faktor Imitasi, Faktor
Sugesti, Fakor Identifikasi, dan Faktor Simpati.
Daftar
Pustaka
Gerungan, W. A.
2004. Psikologi Sosial. Bandung: PT Refika Aditama.
Jabal, I. T. (2003). Sosiologi
Pedesaan. Universitas Muhamadiyah. Malang.
Narwoko, J. D., & Suyanto, B. (2004). Sosiologi teks
pengantar dan terapan. Jakarta: Prenada Media.
Setiadi, E. M., & Kolip, U. (2011). Pengantar
sosiologi: pemahaman fakta dan gejala permasalahaan sosial: teori, applikasi
dan pemecahannya. Kencana.
Setiadi, E. M., & Kolip, U. (2011). Pengantar
sosiologi: pemahaman fakta dan gejala permasalahaan sosial: teori, applikasi
dan pemecahannya. Kencana.
Sitorus, M. 2001. Berkenalan dengan Sosiologi Edisi
Kedua Kelas 2 SMA. Bandung: Erlangga.
Soekanto, S. (2010). Sosilogi: Suatu
Pengantar, cet. ke-43. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sosiologi, Tim. 2003. Sosiologi Suatu Kajian
Kehidupan Masyarakat Kelas 1 SMA. Jakarta: Yudhistira.
Mudjiono, Yoyon.
2012. Komunikasi Sosial. Jurnal Ilmu Komunikasi. Vol.2, No.1.
Surabaya:Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel
[1] Elly M Setiadi & Usman Kolip, Pengantar Sosiologi. Pemahaman
Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial: Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya.(Cet.
II; Jakarta: Kencana, 2011) h. 63
[2] Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar. (Cet. Ke-43;
Jakarta: Rajawali Press, 2010) h. 55
[3] Soerjono Seikanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Cet. Ke-43;
Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2010), h. 65-68
[4] Ibid., h. 68 -71
[5] Elly M. Setiadi dan Usman Kolip, Pengantar Sosiologi Pemahaman
Fakta dan Gejala Permasalahan Sosial, Teori, Aplikasi, dan Pemecahannya
(Cet.ke-2 ; Jakarta: Kencana, 2011), h. 81
[6] Jabal Tarik Ibrahim, Sosiologi Pedesaan (Cet. I; Malang:
Universitas Muhammadiyah Malang, 2003) h. 22
[7] J. Dwi Narwoko & Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan
Terapan (edisi keempat, Cet. Ke-5; Jakarta: Kencana, 2011) h. 65-71
Untuk melihat versi lebih lengkap silahkan kunjungi video saya dibawah ini
https://youtu.be/JuVn_QV1iG0
https://youtu.be/JuVn_QV1iG0